Dewasa ini, pendidikan tengah berdiri di ambang zaman yang ganjil sekaligus paradoksal. Di satu sisi, teknologi menjanjikan efisiensi, akses tanpa batas, dan kecepatan yang nyaris melampaui daya pikir manusia. Di sisi lain, manusia justru kian terancam menjadi objek dari sistem yang diciptakan sendiri. Algoritma hadir sebagai penentu arah belajar, selera berpikir, bahkan cara manusia memaknai dunia. Dalam lanskap seperti ini, pendidikan tidak lagi cukup hanya sekdar mengajarkan keterampilan teknis, tetapi dituntut juga untuk menjaga kemanusiaan agar tidak larut dalam logika mesin.
Algoritma bekerja dengan logika prediksi dan efisiensi, bukan dengan empati dan kebijaksanaan. Algoritma membaca pola, menghitung kecenderungan, lalu menyajikan pilihan-pilihan yang dianggap paling relevan. Namun manusia bukan sekadar kumpulan data yang bisa dipetakan sepenuhnya. Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan sejati adalah proses humanisasi, bukan mekanisasi kesadaran. Ketika pendidikan terlalu menyerahkan arah belajarnya pada sistem algoritmik, maka risiko dehumanisasi semakin nyata. Murid bisa menjadi pengguna pasif, bukan subjek yang kritis dan reflektif. Di sinilah pendidikan harus mengambil sikap etis, bukan sekadar adaptif.
Kecerdasan Buatan
Memasuki 2026, kecerdasan buatan telah merasuk ke ruang-ruang kelas, baik secara langsung maupun tidak. Sistem pembelajaran adaptif, penilaian otomatis, dan rekomendasi konten berbasis data menjadi hal yang lazim. Dalam perspektif teori behavioristik, hal ini mungkin dianggap efektif karena mampu mengukur respons dan capaian secara cepat. Namun efektivitas teknis tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman makna belajar. Jean Piaget menekankan bahwa belajar adalah proses konstruksi pengetahuan melalui interaksi aktif dengan lingkungan. Ketika interaksi itu digantikan oleh layar dan algoritma, maka pengalaman belajar berpotensi mengalami kedangkalan. Pendidikan pun berisiko kehilangan dimensi reflektifnya.
Lebih jauh lagi, globalisasi digital menjadikan pendidikan berada dalam arus kompetisi global yang keras. Standar internasional, peringkat, dan sertifikasi menjadi orientasi utama banyak lembaga pendidikan. Dalam konteks ini, manusia dididik untuk menjadi “kompetitif”, tetapi sering kali lupa diajak menjadi “reflektif”. Teori pendidikan kritis menyoroti bahwa pendidikan yang tunduk pada logika pasar akan melahirkan individu yang terampil tetapi rapuh secara etis. Murid dilatih untuk unggul, tetapi tidak dilatih untuk menumbuhkan rasa peduli. Mereka pandai mengelola data, tetapi gagap membaca penderitaan. Pendidikan pun terjebak dalam paradoks kemajuan tanpa kebijaksanaan.
Bahasa algoritma adalah bahasa kuantifikasi, sedangkan bahasa manusia adalah bahasa makna. Ketika pendidikan terlalu mengagungkan angka, skor, dan peringkat, maka aspek eksistensial manusia terpinggirkan. Martin Heidegger pernah mengingatkan bahaya teknologi yang menjadikan manusia sekadar “standing reserve”, cadangan sumber daya. Dalam dunia pendidikan, murid bisa diperlakukan sebagai komoditas prestasi. Guru berubah menjadi operator sistem, bukan pendamping perjalanan intelektual dan spiritual. Hubungan pedagogis pun kehilangan kehangatannya. Padahal pendidikan sejatinya adalah relasi manusia dengan manusia.
Di tengah arus algoritmik ini, peran pendidik menjadi semakin krusial, bukan semakin tergantikan. Pendidik bukan sekadar penyampai materi, melainkan penjaga nilai dan penafsir makna. Lev Vygotsky menegaskan pentingnya interaksi sosial dalam perkembangan kognitif. Algoritma tidak memiliki kepekaan untuk membaca kecemasan murid, kegelisahan eksistensial, atau luka batin yang tak terucap. Pendidik, dengan empati dan intuisi, mampu menghadirkan ruang aman bagi tumbuhnya kesadaran. Di sinilah pendidikan menemukan kembali wajah manusianya.
Budaya Instan dan Kesadaran Kritis
Pendidikan menghadapi tantangan besar ketika generasi muda tumbuh dalam budaya instan. Informasi tersedia melimpah, tetapi kebijaksanaan menjadi langka. Nicholas Carr mengingatkan bahwa teknologi digital dapat mengubah cara otak manusia berpikir, dari mendalam menjadi dangkal. Pendidikan yang tidak sadar akan risiko ini berpotensi melahirkan generasi yang cepat, tetapi tidak tahan lama. Mereka tangkas mengakses informasi, tetapi lemah dalam refleksi. Proses belajar pun berubah menjadi konsumsi konten, bukan pergulatan makna. Di sinilah, pendidikan harus berani melawan arus ini dengan memperlambat ritme berpikir.
Menjadi manusia di tengah algoritma berarti merawat kesadaran kritis. Pendidikan tidak boleh sekadar mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga cara mempertanyakannya. Critical digital literacy menjadi kebutuhan mendesak memasuki 2026. Murid perlu diajak memahami bagaimana algoritma bekerja, siapa yang diuntungkan, dan nilai apa yang disisipkan di dalamnya. Ini sejalan dengan gagasan Freire tentang kesadaran kritis sebagai jalan pembebasan. Tanpa kesadaran ini, manusia hanya menjadi pengguna, bukan penentu. Pendidikan harus membekali murid dengan keberanian untuk berpikir melawan arus.
Dimensi etika menjadi medan penting yang sering terabaikan dalam pendidikan berbasis teknologi. Algoritma tidak mengenal keadilan, kecuali yang diprogramkan. Bias data, diskriminasi digital, dan ketimpangan akses menjadi masalah nyata saat ini. Pendidikan yang humanistik harus berani membicarakan etika teknologi secara terbuka. Lawrence Kohlberg menekankan bahwa perkembangan moral membutuhkan dialog dan dilema nyata. Ruang kelas harus menjadi tempat perdebatan etis, bukan sekadar ruang transfer pengetahuan (transfer of knowledge). Dari situlah murid belajar menjadi manusia yang bertanggung jawab.
Konteks globalisasi juga menantang identitas kultural peserta didik. Budaya global yang homogen sering kali mengikis kearifan lokal. Pendidikan yang terjebak dalam kurikulum global tanpa konteks lokal akan melahirkan keterasingan. Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan harus berakar pada budaya sendiri. Algoritma global tidak memahami nilai-nilai lokal, kecuali direduksi menjadi data. Pendidikan harus menjadi ruang dialog antara global dan lokal. Dengan begitu, murid tidak tercerabut dari akar budayanya. Hal ini sebagaimana disampaikan Marcus Garvey “the people without knowledge of their past history, origin, and culture is like a tree without roots”.
Dimensi Spiritual
Spiritualitas menjadi dimensi yang kian terpinggirkan dalam pendidikan modern. Padahal, krisis makna adalah salah satu dampak paling serius dari kehidupan digital. Pendidikan yang hanya mengejar kompetensi teknis akan melahirkan kehampaan eksistensial. Di tengah algoritma yang dingin, pendidikan perlu menghadirkan kehangatan spiritual. Bukan dalam arti dogmatis, tetapi dalam bentuk pencarian makna hidup. Di sanalah pendidikan menjadi ruang pemanusiaan sejati.
Memasuki 2026, dunia kerja juga semakin tidak pasti. Banyak profesi tergantikan oleh otomatisasi. Pendidikan yang hanya menyiapkan murid untuk pekerjaan tertentu akan cepat usang. Teori pendidikan progresif menekankan pentingnya fleksibilitas dan kemampuan belajar sepanjang hayat. Lebih dari itu, pendidikan harus menyiapkan ketangguhan mental dan etis. Murid perlu diajak memahami bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh produktivitas semata. Pendidikan harus membebaskan manusia dari reduksi ekonomi. Karena bagaimanapun, manusia lebih dari sekadar tenaga kerja.
Relasi antara guru dan murid di era digital perlu ditata ulang. Teknologi memungkinkan pembelajaran jarak jauh, tetapi juga berisiko menciptakan jarak emosional. Pendidikan yang bermakna membutuhkan kehadiran, meski tidak selalu fisik. Kehadiran ini bersifat etis dan afektif. Nel Noddings menekankan etika kepedulian (ethics of care) sebagai inti pendidikan. Guru yang peduli mampu menembus batas layar dan sistem. Pendidikan pun kembali menjadi relasi, bukan sekadar transaksi.
Evaluasi Pendidikan
Ada yang menarik dalam fenomena evaluasi pendidikan. Evaluasi dalam pendidikan algoritmik cenderung kuantitatif dan seragam. Padahal setiap manusia unik dan memiliki ritme belajar berbeda. Howard Gardner melalui teori kecerdasan majemuk (multiple intelligences) mengingatkan bahwa kecerdasan tidak tunggal. Pendidikan yang tunduk pada algoritma berisiko menyempitkan makna kecerdasan itu sendiri. Murid yang tidak sesuai dengan pola data bisa tersisih. Pendidikan semestinya bisa membela keberagaman cara menjadi manusia. Di sanalah keadilan pedagogis menemukan maknanya.
Menjadi manusia di tengah algoritma juga berarti merawat keheningan. Dunia digital bising oleh notifikasi dan tuntutan respons cepat. Pendidikan perlu menyediakan ruang kontemplasi dan refleksi. Pendidikan perlu menekankan dimensi filsafat dan spiritual. Karena tradisi filsafat dan spiritualitas selalu menempatkan keheningan sebagai sumber kebijaksanaan. Tanpa keheningan, manusia kehilangan kemampuan mendengar dirinya sendiri. Pendidikan yang bijak akan mengajarkan seni berhenti sejenak. Di situlah manusia bertemu dengan dirinya.
Peran kurikulum perlu ditinjau ulang secara mendalam. Kurikulum tidak boleh hanya responsif terhadap pasar dan teknologi. Kurikulum harus visioner dan etis. Bagaimanapun, kurikulum adalah peta nilai yang menentukan arah peradaban. Pendidikan memasuki 2026 harus berani memasukkan dimensi kemanusiaan secara eksplisit. Bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai inti. Tanpa itu, pendidikan kehilangan ruhnya.
Teknologi sejatinya bersifat ambivalen. Di satu sisi teknologi bisa membebaskan, tetapi di sisi lain juga bisa membelenggu. Pendidikan bertugas membimbing manusia agar mampu menggunakan teknologi secara bijak. Ini menuntut keberanian moral dari para pendidik dan pembuat kebijakan. Pendidikan tidak boleh netral terhadap dampak sosial teknologi. Netralitas dalam ketidakadilan adalah bentuk keberpihakan terselubung. Pendidikan harus berpihak pada kemanusiaan.
Di tengah algoritma yang terus belajar, manusialah yang harus terus bermakna. Pendidikan bukan sekadar menyiapkan manusia agar relevan secara teknis, tetapi agar utuh secara eksistensial. Menjadi manusia di tengah algoritma berarti menjaga akal, nurani, dan rasa. Pendidikan adalah ruang perlawanan sunyi terhadap dehumanisasi. Pendidikan harus bisa menyalakan cahaya di tengah dunia yang semakin terotomatisasi. Memasuki 2026, pertaruhan pendidikan bukan pada kecanggihan teknologi, melainkan pada keberanian untuk tetap memanusiakan manusia.
Dr. Dimas Indianto S.,M.Pd.I. (Budayawan, Peneliti, dan Dosen UIN Saizu Purwokerto)
–
Sumber : Kemenag.go.id



