By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
notesasulteng.idnotesasulteng.idnotesasulteng.id
  • Nasional
  • Sulteng
  • Olahraga
  • Politik
  • Ekonomi
  • Parlementeria
  • Artikel
    • Opini
    • Novel
    • Life Style
    • Feature
Reading: Bangkit dari Keterbatasan, UMKM Bumbu Kemasan Asal Solo Tumbuh Berkat Pendampingan BRI
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
notesasulteng.idnotesasulteng.id
  • Nasional
  • Sulteng
  • Olahraga
  • Politik
  • Ekonomi
  • Parlementeria
  • Artikel
Search
  • Nasional
  • Sulteng
  • Olahraga
  • Politik
  • Ekonomi
  • Parlementeria
  • Artikel
    • Opini
    • Novel
    • Life Style
    • Feature
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
© 2025 NotesaSulteng.id
notesasulteng.id > Berita > Bangkit dari Keterbatasan, UMKM Bumbu Kemasan Asal Solo Tumbuh Berkat Pendampingan BRI
BeritaEkonomi

Bangkit dari Keterbatasan, UMKM Bumbu Kemasan Asal Solo Tumbuh Berkat Pendampingan BRI

notesasulteng@gmail.com
notesasulteng@gmail.com
2 bulan ago
Share
Dewi Aminah (kiri), pemilik Iswara Food, produsen bumbu dan tepung bumbu kemasan. FOTO: DOK. BRI
SHARE

Perjalanan hidup kerap diwarnai lika-liku. Namun dari setiap kesulitan, selalu ada peluang yang bisa tumbuh menjadi kekuatan baru. Kisah inilah yang dialami Dewi Aminah, pelaku UMKM asal Solo yang kini sukses mengembangkan Iswara Food, produsen bumbu dan tepung bumbu kemasan.

Bagi Dewi, Iswara Food bukan sekadar usaha, melainkan proses panjang untuk kembali bangkit sebagai ibu, perempuan, sekaligus tulang punggung keluarga. Usaha ini lahir dari pengalaman hidup yang penuh ujian dan tekad untuk terus melangkah ke depan.

Sebelum menekuni bisnis bumbu kemasan, Dewi lebih dahulu menggeluti usaha batik di Pasar Klewer sejak awal pernikahannya. Bisnis tersebut sempat menjadi sumber penghidupan utama keluarga hingga musibah kebakaran hebat melanda Pasar Klewer dan menghanguskan seluruh usahanya.

“Saya dulu punya usaha batik di Pasar Klewer sejak awal menikah sampai anak ketiga lahir. Usaha batik itu sangat menjanjikan, tetapi semuanya habis saat kebakaran Pasar Klewer. Dari situ saya harus memulai kembali dari nol,” tutur Dewi mengenang masa sulit tersebut.

Cobaan belum berhenti. Pada tahun 2000, anak ketiganya lahir dengan kondisi autisme dan hiperaktif. Situasi itu mendorong Dewi untuk mempelajari pola makan sehat bagi anaknya. Meski sebelumnya tidak terbiasa memasak, Dewi mulai belajar mengolah makanan sendiri, hingga akhirnya mengenal dunia bumbu dan olahan tepung.

“Awalnya saya sama sekali tidak bisa memasak. Tapi karena kebutuhan anak, saya belajar sampai akhirnya bisa membuat bumbu dan tepung kemasan. Saya mencoba menghadirkan produk yang berbeda,” ungkapnya. Ia kemudian mengembangkan berbagai produk berbahan tepung mokaf, seperti tepung ayam krispi dan tepung tempe mendoan.

Perkembangan Iswara Food semakin pesat setelah Dewi mengikuti program BRIncubator yang diselenggarakan Rumah BUMN BRI Solo. Program tersebut memberikan pendampingan intensif dan membuka wawasan baru terkait pengelolaan bisnis, pemasaran digital, hingga pengembangan produk.

“Alhamdulillah, saya mendapatkan banyak ilmu dari program BRIncubator selama 10 hari. Saya belajar memasarkan produk lewat media sosial, membuka toko online hanya dari ponsel, meningkatkan kualitas produksi dan kemasan, sampai akhirnya pada 2024 bisa ikut serta dalam BRI Expo untuk memperkenalkan produk ke pasar yang lebih luas,” jelasnya.

Tak hanya berfokus pada pengembangan usaha pribadi, Dewi juga berupaya memberikan dampak sosial bagi lingkungan sekitarnya. Ia aktif memberdayakan ibu-ibu, termasuk ibu dari anak yatim serta istri warga binaan, agar mampu merintis usaha rumahan dengan modal terbatas.

“Saya melatih mereka membuat produk dan mendampingi setiap bulan sampai usahanya berjalan. Bahkan bagi yang sudah siap, bisa memproduksi dengan merek sendiri. Pengurusan PIRT dan sertifikasi halal juga saya bantu tanpa biaya. Usaha bisa dimulai dari rumah, yang penting ada niat,” tambah Dewi.

Di sisi lain, Corporate Secretary BRI Dhanny menyampaikan bahwa BRIncubator merupakan program pelatihan dan pendampingan khusus bagi UMKM binaan Rumah BUMN yang telah melalui proses kurasi. Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha agar mampu bersaing dan berkembang secara berkelanjutan.

Menurutnya, BRIncubator menjadi bagian dari komitmen BRI dalam mendorong UMKM naik kelas melalui penguatan literasi, digitalisasi, serta kemudahan akses pembiayaan dan pasar.

“Melalui pendampingan yang terarah, UMKM diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan menciptakan nilai tambah di pasar,” tutupnya.

Sumber : sultengraya.com

You Might Also Like

Tinjau Lokasi Wisata Paralayang, Gubernur Anwar Hafid Laksanakan Salat Magrib di Bukit Salena
Aksi Damai Aliansi Mahasiswa Menggugat Di Kantor DPRD Sulteng”Reformasi POLRI dan Selamatkan Pendidkan Indonesia”
Rapat Lanjutan Komisi III DPRD Sulteng Bersama OPD Lingkup Pemprov Sulteng terkait Pembahasan Pemanfaatan DBH Nikel agar lebih adil dan tepat sasaran.
Komisi III DPRD Sulteng Gelar RDP Terkait Permasalahan Pertambangan di Kabupaten Banggai
Indonesia Tantang Iran di Partai Final Futsal
TAGGED:BRIUMKM
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link
Previous Article Wajib Menang! Persipal Palu Hadapi Persiku Kudus di Stadion Gawalise
Next Article Soal Honorarium Komisioner, Komisi I DPRD SULTENG Gelar RDP Bersama KPID dan KI
notesasulteng.idnotesasulteng.id
Follow US
© 2026 - NOTESASULTENG.id
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?